Friday, May 24, 2013

Organisasi (1) - Memaknai Sebuah Tujuan

Sejenak merenung-renung tentang organisasi. Organisasi, dalam kamus besar bahasa Indonesia organisasi didefinisikan sebagai  berikut:

  1. Kesatuan (susunan dsb) yg terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dl perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu;
  2. Kelompok kerja sama antara orang-orang yg diadakan untuk mencapai tujuan bersama; 

Ada satu hal penting yang dapat kita garis bawahi dari dua definisi menurut KBBI tersebut. Ya, tidak salah lagi, tujuan. Tujuan menjadi sangat penting karena tujuan adalah sebab adanya organisasi itu sendiri. Tanpa tujuan, sebuah organisasi akan kehilangan esensinya, dan akan terdegradasi cepat atau lambat.

Hari ini mendapat pelajaran baru tentang keorganisasian. Mungkin dahulu sudah pernah dapat materi yang mirip-mirip dengan ini, tetapi tak ada salahnya sedikit mengingat. Organisasi-organisasi itu memiliki tujuannya masing-masing.

Terkadang kita menghendaki organisasi kita belajar dari pengalaman organisasi lain. Di satu sisi pasti banyak hal yang dapat kita pelajari dari sumber tersebut untuk mengembangkan apa yang ada dalam organisasi kita. Akan tetapi kenyataan bahwa tidak ada yang disebut OpAmp ideal ternyata juga berlaku pada organisasi, tidak ada organisasi yang benar-benar ideal. Sesuatu yang kita jadikan model acuan terkadang memiliki beberapa sisi yang sama sekali tidak mungkin kita aplikasikan dalam sistem kita sendiri. Dan yang paling menonjol dan pasti adalah tujuan.

Perbedaan tujuan akan membuat berbagai langkah yang diambil memiliki kesenjangan yang terkadang tidak terasa namun sangat jauh, kelihatannya menarik namun tidak mungkin, atau terasa  bagus tetapi merusak.

Ternyata memang begitu, dalam pergaulan, ada semacam gap yang memang harus ada antara kita dengan orang lain yakni dari sisi tujuan. Tentunya kita tidak ingin langkah untuk meneladani seseorang atau menyerap kebiasaan orang lain berubah menjadi boomerang yang menghancurkan kinerja kita. Di sini kajian yang mendalam dalam memahami keseuaian tujuan dan permasalahan internal diperlukan sehingga nilai-nilai positif dari pihak lain dapat kita serap dengan maksimal tanpa harus melukai sistem dan tujuan diri sendiri yang sudah susah payah kita bangun.

Saturday, May 18, 2013

Strawberry

Strawberry! Percobaan kedua....




Pelajaran Tentang Intan

Beberapa jam yang lalu baru saja mengalami sebuah pengalaman* yang out of the box sekali. Yah, meskipun outof the box-nya ngawur, namun paling tidak ada sisi positifnya. Entah mengapa, atau mungkin karena pengalaman yang baru saja itu, saya jadi teringat sebuah pelajaran dari Pak Lukito beberapa pekan lalu saat mengisi sebuah sesi dalam sebuah acara di fakultas. Tentang intan..

Mengingat pelajaran tentang intan. Kita tahu, intan adalah karbon. Arang, yang hitam itu juga dikatakan karbon. Kalau kita melihat karbon dari sudut pandang arang, mungkin yang terbayang adalah kotor, dan tidak begitu bernilai. Tetapi coba kita lihat intan, dia bernilai, berharga mahal, dan hampir setiap orang tidak akan menolak jika diberi. Bahkan sebagian orang rela menukar dengan harta yang banyak untuk mendapatkan batu mulia tersebut.

Sekarang mari kita tengok, bagaimana bisa? Keduanya sama-sama karbon, tetapi memiliki nilai yang berbeda bahkan sangat jauh nilainya. Mengapa bisa begitu? Jawabannya tentu saja karena prosesnya. Intan mengalami proses dengan tekanan dan suhu ekstrem dalam waktu yang tidak sebentar. Perlakuan, tempaan inilah yang membuat sebongkah karbon ini tak lagi jadi hanya sembarang karbon. Dia bernilai dan berharga.

Kerap kali karbon dianalogikan dengan manusia. Manusia, semakin ditempa, semakin dia mendapat cobaan yang ekstrem, dia akan berubah menjadi sebuah pribadi yang jauh lebih berharga dan berkualitas. Saya pribadi sejalan dengan pemikiran ini. Bahkan beberapa kali saya benar-benar merasakan sensasi perubahan karena kondisi ekstrem semacam ini. Bahwa problem-problem dalam kehidupan itu adalah benar-benar sebagai tempaan bagi diri kita yang output-nya adalah pribadi yang lebih berkualitas. Namun saya punya satu poin di sini: kita bukan batu! Kalau intan sudah mencapai fasenya sebagai intan, selesai sudah. Selamanya akan jadi intan. Tetapi kita manusia, dinamika kehidupan akan terus berlaku pada diri kita. Steady state tak akan pernah benar-benar kita alami sebelum kematian datang. Selesainya suatu problem atau beberapa problem sekaligus bukanlah suatu titik selesai yang hakiki. Justru pada saat itu –waktu luang–, adalah saat-saat yang rawan bagi kita untuk kembali ke fase semula karena kelalaian ataupun karena memperturutkan kemauan diri dan tidak mempedulikan tanggung jawab yang akan datang.

Beberpa waktu yang lalu, benar-benar saya alami. Bahwa waktu luang itu adalah sesuatu yang benar-benar sangat mematikan. Ternyata, situasi di luar zona nyaman itu harus terus-menerus kita pertahankan agar kecepatan pikiran dan perjalanan hidup ini bisa kita pertahankan dalam keadaan yang stabil. Kalau kita melihat motor, dari berhenti untuk mencapai kecepatan tetentu dibutuhkan tenaga yang besar. Berbeda dengan untuk mempertahankan kecepatan tertentu. Begitu pula kita, saat dinamika kehidupan dan lintasan pikiran ini mulai melambat, untuk mempercepatnya lagi butuh energi ekstra. Bahkan mungkin untuk mencapai keadaan semula yang telah susah payah dicapai, berkali-kali ditemui kegagalan karena lemahnya tekad dan kuatnya gangguan dari luar.
Jadi, untuk kita, pejuang kehidupan, rehat itu perlu. Tetapi mengetahui keadaan dan kapasitas diri adalah sesuatu yang sangat vital untuk menjaga agar proses untuk mencapai kondisi dinamis sebelumnya tidak terlampau sulit atau bahkan tidak mungkin.

*menyelesaikan beberapa unit laporan praktikum dalam sehari semalam.

Monday, May 6, 2013

Friday, May 3, 2013

Berbicara dengan Orang yang Tepat

Manusia sebagai makhluk sosial tentu sangat butuh dengan yang namanya komunikasi. Dalam proses komunikasi, banyak metode dalam mnyampaikan aspirasi kita, seperti dengan tulisan, bahasa tubuh, dan pembicaraan tentunya. Berbicara ini ternyata dapat menimbulkan masalah tersendiri ketika pembicaraan kita didengar oleh orang yang tidak semestinya. Pendengar yang tidak semestinya di sini bukan dalam konteks orang yang mencuri dengar tentunya, namun konteks pendengar yang tidak tepat di sini adalah orang yang ikut dalam diskusi yang kita terlibat di dalamnya, namun tidak dalam kapasitas untuk mendengar apa yang akan kita sampaikan.

Tidak dalam kapasitas sendiri ada beberapa macam, namun yang akan kita bahas adalah orang yang tidak memiliki kapasitas untuk memahami, apakah diskusi yang sedang kita lakukan adalah layak untuk diketahui semua orang, orang-rang tertentu, atau hanya sebatas untuk diketahui oleh orang yang hadir dalam diskusi tersebut. Disadari atau tidak, orang semacam ini dapat membawa masalah, bahkan masalah besar dalam sebuah komunitas. Seperti informasi prematur, ketidakadilan dalam penyampaian informasi, dan penyalahartian informasi yang dapat berujung  kepada rusaknya kekompakan atau solidaritas suatu komunitas.

Masalah tentang orang yang yang tepat dalam diskusi memang bukan masalah baru dalam kehidupan bermasyarakat. Hampir selalu ada orang semacam ini dalam setiap diskusi jika kita tidak jeli dalam membawa arah diskusi. Atau bahkan mungkin kita sendiri sering menjadi seorang yang tidak tepat ada dalam sebuah diskusi karena kurangnya kontrol terhadap diri sendiri. Di sini kita dituntut untuk peka dan kritis terhadap keadaan orng-orang yang hadir di dalam diskusi dan juga topik diskusi itu sendiri.

Terkadang diskusi benar-benar terarah dan sudah memiliki satu tema yang disepakati. Diskusi semacam ini relatif lebih “aman” karena setiap anggota diskusi paling tidak sadar kalau diskusi yang sedang berlangsung adalah diskusi sebagaimana yang telah disepakati. Seandainya hasilnya adalah untuk diketahui orang-orang tertentu, tentu yang hadir telah menyadari. Akan tetapi terkadang kita terlibat dalam diskusi yang itu memang insidental dan tidak ada kesepakatan sebelumnya. Dalam kondisi semacam ini, kita dituntut jeli dalam mengamati orang-orang yang hadir. Apakah mereka sesuai dengan apa yang akan kita utarakan. Juga, kita dituntut untuk berhati-hati dalam menyampaikan suatu hal. Apakah yang akan kita sampaikan memang dapat membawa pengaruh positif jika kita sampaikan dalam forum, apakah yang akan kita sampaikan mungkin dapat diterima oleh orang yang hadir?

Sebaliknya jika kita sebagai obyek dari suatu informasi yang sedang diungkapkan dalam sebuah diskusi bebas, hendaknya kita menimbang-nimbang apakah apa yang sedang dipaparkan itu untuk yang hadir saja atau boleh diberitahukan ke yang lain selain yang hadir. Akhirnya itu semua kembali kepada diri kita masing-masing. Apakah kita termasuk orang yang peka dan kritis sebagai orang yang didengar? Apakah kita sudah cukup mengerti, sebagai pendengar untuk menyikapi apa yang kita dengar? Kadang kala diam itu jauh lebih baik. Baik itu sebelum berbicara, ataupun setelah mendengar.  

Wednesday, May 1, 2013

Pembangkitan (1) - Boiler

Sedikit berbagi tentang boiler pada pembangkitan tenaga listrik. Di pembangkit listrik tenaga uap, air ketel dipanasi hingga fasenya berubah ke uap jenuh di dalam boiler. Berikut ilustrasi sederhana mekanisme pemanasan air di boiler.

Gambar di atas adalah ilustrasi untuk sirkulasi alamiah. Saat sirkulasi alamiah tidak bisa diandalkan lagi, dipakai forced circulation. Mengapa? Pada tekanan yang semakin tinggi, selisih berat jenis air dengan saturated steam akan semakin kecil. Hal ini akan menyebabkan sirkulasi alamiah tidak efektif lagi. Oleh karena itu dipakai sirkulasi paksa yakni dengan memasang pompa pada downcomer untuk menarik air ketel dan mendorong campuran uap dan air melalui pipa dan riser.